Selasa, 13 November 2001

“ P E M U T I H, CANTIK, SEHATKAH? ”

“ P E M U T I H, CANTIK, SEHATKAH? ”
Oleh: dr. Silvy Rahmah Yanthy


Cantik, penilaian yang hampir setiap wanita mendambakannya. Cantik luar, cantik dalam, dan sekarang, ‘maju mundur’pun harus tetap cantik.Untuk mengetahui keamanan produk pemutih yang dipakai bisa dicek dari komposisi bahan yang digunakan, yang perlu dihindari adalah merkuri karena bisa menimbulkan kanker kulit, selain itu juga hydroquinon, batas maksimum adalah 2% , bila lebih dari itu sebaiknya dihindari. Hydroquinon ini biasanya digunakan dalam produk penghilang flek-flek hitam pada kulit wajah. Namun untuk hydroquinon ini juga sebaiknya dihentikan pemakaian bila hasil yang diinginkan sudah dicapai.

Memutihkan wajah instan berarti produk yang digunakan bisa dipastikan berbahaya, apalagi bila bisa memutihkan dalam hitungan 2-4 minggu sudah memberikan dampak yang berarti. Perlu diketahui, setiap individu mempunyai batas maksimum kecerahan kulit, yang artinya hasil pemutih tidak sama antara satu dengan yang lain. Bila dipaksakan, hasilnya bukan putih, tapi ‘patologik’ alias sakit.

Pemutih yang banyak beredar di pasaran umumnya bekerja dengan menghambat/ membatasi produksi melanin (pigmen penggelap warna kulit). Padahal melanin mempunyai peran penting dalam menghalangi pengrusakan kulit oleh sinar UV matahari. Pengrusakan kulit oleh sinar UV matahari bisa membentuk sel kanker.

Untuk membuat kulit putih atau ‘lebih cerah’ tepatnya adalah menggunakan tabir surya apabila di ruang terbuka (SPF), melakukan scrubing dan peeling untuk mengelupas sel kulit mati yang sering membuat kulit wajah terlihat kusam/gelap. Scrubing/ peeling maksimum seminggu dua kali, bisa juga ditambah masker bahan alami seperti bengkuang atau kentang.

Tanpa mengurangi arti kecantikan pada umumnya, yang terpenting adalah kecantikan dalam diri kita, dan kita merasa cantik. Nantinya yang terpancar adalah apa yang kita pikirkan... CANTIK !